Risiko Terkena Gangguan Jiwa Akibat Konsumsi Obat Hipertensi

Tahukah Anda jika konsumsi obat Hipertensi ternyata memiliki risiko terkena gangguan jiwa? Bukan menakut-nakuti, hanya saja pernyataan ini berdasarkan penelitian para ahli kesehatan.

Menurut data penelitian di tahun 2008 hampir sebanyak satu miliar orang di seluruh dunia penderita Hipertensi tidak terkontrol, dan jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat menjadi lebih dari 1,5 miliar pada tahun 2025. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), akibat penyakit Hipertensi saja setidaknya menyebabkan 7,5 juta kematian di seluruh dunia pada tiap tahunnya. Hal ini diketahui akibat semakin meningkatnya penderita Hipertensi, maka semakin banyak juga yang mengkonsumsi obat anti Hipertensi. Dari penelitian terbaru menunjukkan jika salah satu efek samping dari obat Hipertensi ternyata bisa menyebabkan gangguan mood seperti bipolar dan depresi.

Risiko Terkena Gangguan Jiwa Akibat Konsumsi Obat Hipertensi

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Jika kita mengenal pengertian dari depresi dan gangguan Bipolar, keduanya termasuk jenis gangguan mood yang termasuk dalam penyakit jiwa. Pada umumnya, baik itu penderita depresi ataupun bipolar, mereka mengalami kehilangan minat untuk hidup, kehilangan selera terhadap sesuatu yang dulunya sangat ia minati.

Depresi adalah gangguan kejiawaan yang membuat seseorang merasa sedih berkelanjutan hingga merasa berada pada titik rendahnya. Mereka juga merasakan teramat putus asa hingga kehilangan motivasi, semangat bahkan hanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Berbanding terbalik dengan Bipolar, kondisi ini terjadi dengan ditandai adanya perubahan mood yang ekstrim (mood swings). Mereka yang mengidap Bipolar biasanya merasa amat sangat gembira di waktu tertentu, mereka juga bersemangat hingga berlebihan. Namun kemudian setelahnya akan sangat merasakan kesedihan yang teramat sampai-sampai tidak dapat diprediksi.

Walaupun hingga saat ini para peneliti yang melakukan penelitian belum menemukan secara pasti apa yang menyebabkan Bipolar, namun mereka meyakini jika peranan terbesar hingga saat ini adalah faktor genetik. Dua zat kimia di otak, serotonin dan norepinephrine menjadi tidak terkenali (acak-acakan). Sedangkan untuk depresi, kondisi ini terjadi akibat beragam hal mulai dari perubahan hormon, penggunaan obat-obatan tertentu, faktor genetik, trauma, hingga stres kronis.

Obat Hipertensi jenis apa saja yang memberikan efek samping gangguan mental?

Dalam ebuah penelitian terbaru di Skotlandia yang mengikut sertakan 145.000 orang berusia rata-rata 55 tahun yang sedang diresepkan obat untuk Hipertensi. Partisipan dikelompokkan ke dalam empat kelompok berdasarkan golongan obat Hipertensi yang dikonsumsi, diantaranya angiotensin receptor blocker (ARB), beta-blocker, calcium channel blocker (CCB), dan thiazide. Para peneliti juga memiliki 112.000 orang yang tidak mengonsumsi obat hipertensi apapun sebagai kelompok kontrol. Dan dalam periode lima tahun, peneliti mendapatkan sebanyak 299 orang menderita gangguan mood yaitu depresi atau bipolar.

Saat peneliti kemudian membandingkan empat golongan obat untuk Hipertensi yang paling umum, mereka menemukan bahwa orang-orang yang mengonsumsi golongan obat seperti :

Calcium channel blocker (CCB) — Amlodipine, Clevidipine, Diltiazem, Felodipine, Isradipine, Nicardipine, Nifedipine, Nimodipine, dan Nisoldipine — dan Beta-blocker (Atenolol, Propranolol, Metoprolol, Nadolol, Betaxolol, Acebutolol, Bisoprolol, Esmilol, Nebivolol, dan Sotalol) menunjukkan peningkatan risiko yang paling tinggi terhadap gejala depresi dan/atau gangguan bipolar.

Sementara partisipan yang mengonsumsi obat golongan Angiotensin receptor blocker (ARB) — Azilsartan, Candesartan, Irbesartan, Losartan potassium, Eprosartan Mesylate, Olmesartan, Telmisartan, dan Valsartan — memiliki risiko yang lebih rendah untuk menderita gangguan mood dibandingkan dengan kelompok kontrol. Partisipan yang mengonsumsi obat golongan thiazide memiliki risiko yang sama dengan kelompok kontrol.

Dengan penelitian tersebut, apakah harus segera berhenti untuk minum obat Hipertensi?

Tentu saja tidak. Para peneliti kemudian meluruskan bahwa Anda sebaiknya tidak langsung panik untuk kemudian menarik kesimpulan menghentikan minum obat Hipertensi Anda karena khawatir akan efek samping tersebut. Belum diketahui pasti apa yang menyebabkan kaitan diantara keduanya. Oleh sebab itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut lagi untuk dapat memahami berbagai kemungkinan pengaruh dari obat untuk Hipertensi.

Tapi mungkin saja masih ada sebagian faktor-faktor lain yang turut memengaruhi gangguan mood tersebut dan para penderita Hipertensi tetap harus melanjutkan pengobatan mereka karena penting untuk menjaga tekanan darah mereka.

Menghentikan sendiri konsumsi obat Hipertensi tanpa sepengetahuan dokter dapat memengaruhi kesehatan tubuh Anda secara keseluruhan. Jangan minum obat hanya saat ada keluhan, sehingga saat keluhan membaik atau obat habis Anda tidak kontrol kembali ke dokter untuk isi ulang. Obat untuk Hipertensi harus diminum teratur.

Obat Hipertensi yang tidak teratur dapat menyebabkan tekanan darah kembali naik. Terlebih jika pola hidup juga tidak diubah menjadi lebih sehat. Tekanan darah yang naik turun nantinya bisa berdampak buruk bagi kesehatan, mulai dari peningkatan risiko komplikasi penyakit jantung dan stroke hingga kemampuan untuk berpikir.

Jadi jangan pernah berhenti mengonsumsi obat Hipertensi walaupun memang ada efek samping obat. Efek samping ini sangat jarang terjadi dan tidak semua orang mengalaminya. Dokter yang meresepkan obat untuk Anda karena tahu bahwa manfaatnya akan lebih besar daripada risiko efek sampingnya.

Jika Hipertensi yang Anda alami tidak membaik bahkan telah mengikuti semua yang disarankan dokter, ada baiknya kembali melakukan konsultasi untuk mengetahui solusi selanjutnya.

>> REKOMENDASI OBAT HIPERTENSI ALAMI DAN AMAN HANYA UNTUK ANDA <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *